Muhibbin Syah dalam bukunya “Telaah Singkat Perkembangan Peserta Didik” setidaknya mengemukakan tiga tahapan dalam perkembangan keberagamaan peserta didik yang bisa dijadikan sumber bacaan bagi guru untuk mengetahui sejauh mana perkembangan keberagamaan pada peserta didiknya.
Pertama, tahap fairy tale stage (dongengan). Tahap ke-1 ini berlangsung pada usia 3-6 tahun. Dalam mengenal konsep Tuhan anak lebih banyak dipengaruhi oleh khayalan dan perasaan sesuai dengan tahap perkembangan inteleknya yang masih amat sederhana. Oleh karena itu, kehidupan pada rentang usia tersebut masih diliputi fantasi dan emosi, menanggapi hiruk pikuk kehidupan keagamaan pun hanya didasarkan pada dongeng-dongeng yang menimbulkan emosi tertentu. Jiwa keagamaan anak pada pada rentang usia 3-6 tahun bersifat unreflective (tidak mendalam) dan lebih cenderung menganggap Tuhan sebagai manusia tetapi dengan kekuatan yang lebih besar daripada orang-orang sekelilingnya. Boleh jadi, jiwa keagamaan seperti ini merupakan konsekuensi dari watak egosentris anak, sehingga dalam beragama pun (termasuk cara memahaminya) masih diorientasikan pada kepentingan dirinya sendiri.
Kedua, tahap realistic stage (kenyataan). Tahap ke-2 ini berlangsung pada rentang usia sekolah MI/SD (6 atau 7-11 atau 12 tahun). Pada tahap realistic stage gagasan mengenai ketuhanan mulai ditanggapi secara realistis sesuai dengan pelajaran dari orang tua, guru di sekolah, dan ilustrasi keagamaan di sekitarnya. Meskipun sikap anak pada tahap ini masih dipengaruhi emosi, namun jiwa keagamaannya sudah tidak didasarkan pada fantasi semata, sehingga pelajaran agama dan segala amal keagamaan ia ikuti dengan penuh minat.
Ketiga, tahap individual stage (individual). Tahap ke-3 ini berlangsung pada usia remaja dan seterusnya. Pada tahap ini jiwa keagamaan manusia sudah bersifat realistis dalam arti tidak bergantung pada dongengan/fantasi dan emosi meskipun pada saat-saat tertentu jiwa keagamaannya dapat memicu emosi tertentu, misalnya ketika Tuhan dan agamanya dilecehkan orang. Di antara hal-hal penting yang perlu dicatat pada tahap ini ialah diperolehnya konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Artinya, agama yang ia anut telah dihayati dengan baik dan menjadi etos humanist (jiwa khas kemanusiaan) yang tertanam dalam pribadinya. Tinggi-rendahnya etos ini bergantung pada pengalaman belajar dan lingkungannya termasuk lingkungan keluarga, teman sejawat, dan lingkungan pendidikannya.
Perlu dicatat, bahwa perasaan keagamaan pada remaja peserta didik MTs/SMP dan MA/SMA pada umumnya belum stabil tapi berubah-ubah sesuai dengan pengalaman/peristiwa yang mereka alami. Kecintaan dan kebutuhan akan Tuhan misalnya, kadang-kadang tidak terasa ketika mereka mengalami kesenangan dalam kehidupan yang serba mewah dan mudah. Sebaliknya ketika mereka dalam kesulitan besar atau ancaman musibah yang menyengsarakan, mereka cenderung merasa membutuhkan Tuhan dan perlu lebih sering mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, kelabilan jiwa/perasaan keagamaan ini dapat diatasi atau diantisipasi oleh para guru agama dengan pembelajaran agama yang lebih intensif dan ekstensif. Upaya ini amat penting dalam rangka membuat agama menjadi sistem nilai diri yang dapat menuntun sikap dan perbuatan mereka sepanjang masa.
loading...

EmoticonEmoticon