Tingkat keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas VII di SMP Ar-Rahman dinyatakan sangat rendah. Hal tersebut ditandai dengan kurang aktifnya siswa ketika kegiatan pembelajaran di kelas sedang berlangsung, seperti cenderung enggan mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran. Guru sering memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, tetapi hampir tidak ada siswa yang mau bertanya. Siswa juga enggan untuk berpendapat atau pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan gurunya sehingga pembelajaran cenderung menjadi pasif, seolah-olah guru yang menjadi subjek dan siswa yang menjadi objek dari pembelajaran tersebut atau yang lebih dikenal dengan istilah teacher centered.
Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya mengemukakan bahwa “proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa. Untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tersebut.” Disamping itu keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan sangat menentukan hasil dan kualitas dari pembelajaran itu tersendiri. Mengenai hal ini E. Mulyasa mengatakan bahwa “pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri.”
Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas mengenai keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran, maka apa yang terjadi pada siswa kelas VII di SMP Ar-Rahman dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan suatu permasalahan yang harus segera terselesaikan. Oleh karena itu, menciptakan situasi dan kondisi pembelajaran yang memungkinkan dapat
terjadinya interaksi antara guru dan siswa merupakan suatu hal yang
sangat penting sebagai langkah awal dalam upaya untuk membangkitkan serta mengembangkan
keaktifan siswa di kelas.
Untuk menciptakan suasana kegiatan pembelajaran yang aktif tersebut, maka metode dan model pembelajaran merupakan solusi terbaik untuk pemecahan terhadap permasalahan ini. Karena tidak dapat dipungkiri bahwasannya kebanyakan guru terlebih lagi guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) lebih cenderung menggunakan metode dan model pembelajaran berbasis passive learning seperti ceramah, membaca, audio-visual dan lain sebagainya jika dibandingkan dengan menggunakan metode dan model pembelajaran berbasis active learning seperti diskusi, jigsaw, kancing gemerincing dan lain sebagainya.
Oleh karena itu peneliti mencoba untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan penggunaan metode dan model pembelajaran berbasis active learning untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas VII di SMP Ar-Rahman.
Oleh karena itu peneliti mencoba untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan penggunaan metode dan model pembelajaran berbasis active learning untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas VII di SMP Ar-Rahman.
loading...

EmoticonEmoticon