Biografi Mulla Shadra dan Karya-Karyanya

Disember 15, 2017

1. Biografi Mulla Shadra
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ibrahim bin Yahya al-Qawami al-Syirazy, yang bergelar ‘Shadr al-Din’ dan lebih popular dengan sebutan Mulla Shadra atau Shard al-Muta’alihin, dan dikalangan murid-murid serta pengikutnya disebut ‘Akhund’. Dia dilahirkan di Syiraz sekitar tahun 979-80 H/ 1571-72 M dalam sebuah keluarga yang cukup berpengaruh dan terkenal, yaitu keluarga Qawam. Ayahnya adalah Ibrahim bin Yahya al-Qawami al-Syirazy salah seorang yang berilmu dan saleh, dan dikatakan pernah menjabat sebagai Gubernur Propinsi Fars. Secara sosial-politik, ia memiliki kekuasaan yang istimewa di kota asalnya, Syiraz.

Pendidikan formal Mulla Shadra tampaknya telah mempersiapkan dirinya untuk mengemban tugas yang maha besar ini. Mengikuti penjelasannya sendiri dalam Al-Asfhar Al-Arba’ah, para sejarawan membagi biografi Mulla Shadra ke dalam tiga periode: Periode pertama, pendidikan formalnya berlangsung di bawah guru-guru terbaik pada zamannya. Tidak sama seperti filosof lainnya, dia menerima pendidikan dari tradisi Syiah: fiqih Ja’fari, ilmu hadis, tafsir dan syarah Al-Qur’an di bawah bimbingan Baha‘uddin al-‘amali (w. 1031 H/1622 M), yang meletakkan dasar fiqih baru Syi’ah. Selanjutnya ia belajar pada filosof peripatetik Mir Fenderski (w. 1050 H/1641 M) namun gurunya yang utama adalah teolog-filosof, Muhammad yang dikenal sebagai Mir Damad (1041 H/1631 M). Damad nampaknya merupakan pemikir papan atas yang mempunyai orisinilitas dan juga dijuluki Sang Guru Ketiga (setelah Aristotles dan Al-Farabi). Tampaknya, ketika Mulla Shadra ini muncul, filsafat yang ada, dan yang umumnya diajarkan, adalah tradisi neoplatonik-peripatetik Ibn Sina dan para pengikutnya. Pada abad ke 6 H/ke 12 M, Suhrawardi telah melakukan kritik terhadap beberapa ajaran dasar parepatetisme. Ialah yang meletakkan dasar-dasar bagai filsafat Illuminasionis yang bersifat mistis (Hikmat al-Isyraq).

Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya, Mulla Shadra terpaksa meninggalkan Isfahan, karena kritik sengit terhadap pandangan-pandangannya dari Syi’ah dogmatis. Dalam periode kedua, dia menarik diri dari khalayak dan melakukan uzlah di sebuah desa kecil dekat Qum. Selama periode ini,  pengetahuan yang diperolehnya mengalami kristalisasi yang semakin utuh, serta menemukan tempat dalam mengasah kreativitasnya. Beberapa bagian dari Al-Asfar al-Arba’ah disusunnya pada periode ini. Dalam periode ketiga, dia kembali mengajar di Syiraz, dan menolak tawaran untuk mengajar dan menduduki jabatan di Isfahan. Semua karya pentingnya dia hasilkan dalam pereode ini. Dia tidak berhenti untuk menghidupkan semangat kontemplatifnya dan juga melakukan praktek asketis sebagaimana disebutkan dalam karyanya sehingga beberapa argument filosofisnya dia peroleh melalui pengalaman-pengalaman visionernya (mukasyafah).

Dengan demikian, sistem pemikiran Mulla Shadra yang khas tumbuh, yang kelihatannya benar-benar berbeda dari situasi intelektual dan spiritual pada masanya. Kesalehannya terhadap agama dapat ditunjukkan antara lain oleh kenyataan bahwa ia dikatakan meninggal di Basrah pada 1050 H/1641 M saat pulang menunaikan ibadah haji yang ketujuh kalinya. 

2. Karya Mulla Sadra
Sebagai penerus aliran isyraq dan penyempurna berbagai aliran filsafat islam sebelumnya, tentu saja hal itu memberi dampak terhadap kuantitas karya Mulla Shadra. Penulis sajikan karya-karya besar dari seorang Mulla Shadra lebih dari 20 karya yang ditulisnya, sebagai berikut.

  • Al-Hikmah Al-Muta’aliyah fi Asfar Al-Aqliyah Al-Arba’ah (teosofi transcendental yang membicarakan empat perjalanan akal pada jiwa). Lebih dikenal dengan sebutan Asfar. Kitab ini merupakan karya monumental karena menjadi dasar bagi karya pendeknya, juga menjadi risalah pemikiran pasca Avicennian pada umumnya. Kitab ini menjelaskan penggambaran intelektual dan spiritual manusia ke hadirat Tuhan. Juga memuat hampir semua persoalan yang berkaitan dengan wacana pemikiran dalam islam; ilmu kalam, tasawuf, dan filsafat. Penyajiannya menggunakan pendekatan morfologis, metafisis dan historis. Hingga saat ini kitab Asfar digunakan sebagai teks tertinggi dalam memahami hikmah dan hanya digunakan oleh mereka yang telah memahami teks-teks standar ilmu kalam syi’ah imamiyah, filsafat paripatetis, neoplatonisme yang dikembangkan oleh Ibnu Sina, teosofi isyraqi Suhrawardi, dasar-dasar ajaran gnostic Ibnu Arabi dan wahyu, termasuk didalamnya sabda Nabi dan para imam Syi’ah.
  • Al-Hasyr (tentang kebangkitan)
  • Al-hikmah Al-Arsyiyah (hikmah diturunkan dari ‘Arsy ilahi)
  • Hudus Al-Alam (penciptaan alam)
  • Kasr Al-Ashnam Al-Jahiliyah fi dhaimni Al-Mutashawifin (permusuhan berhala jahiliyah dalam mendebati mereka yang berpura-pura menjadi ahli sufi)
  • Kalq Al-A’mal
  • Al-Lama’ah Al-Masyriqiyah fi Al-funnun Al-Mantiqiyah (percikan cahaya iluminasionis dalam seni logika)
  • Al-Mabda wa Al-Ma’ad (permulaan dan pengembalian)
  • Mafatih Al-Ghaib (kunci alam gaib)
  • Kitab Al-Masya’ir (kitab penembusan metafisika)
  • Al-Mizaj (tentang perilaku perasaan)
  • Mutasyabihat Al-Qur’an (ayat-ayat mutsyabihat dalam Al-Qur’an)
  • Al-Qadha wa Al-Qadar fi Af’ali Al-Basya (tentatng masalah Qada’ dan Qadar dalam perbuatan manusia)
  • As-Syawahid Ar-Rububiyah fi Al-Manahij As-Sulukiyah (penyaksian ilahi akan jalan kesederhanaan rohani)
  • Sharh-I Shafa
  • Sharh-I Hikmat Al-Ishraq
  • Ittihad Al-‘aquil wa’l-Ma’qul
  • Ajwibah Al-Masa’il
  • Ittisaf Al-Mahhiyah bi’l wujud
  • Limmi’yya ikhtisas Al-Mintaqah.
  • Khalq al-A’mal
  • Zad Al-Musafir.
  • Isalat-I Ja’l-i Wujud
  • At-Tashakhkhus.
  • Sarayan Nur Wujud
  • Al-Hashriyyah.
  • Al-alfazh Al-Mufradah
  • Radd-I Shubahat-I Iblis
  • At-Tanqih.
  • At-Tasawwur wa’l-Tasdiq
  • Diwan Shi’r.

Dalam hal ini berlaku pula kepada Mulla Shadra memiliki pelanjut dan pengembang filsafatnya karena keberhasilan seorang guru ditentukan seberapa banyak murid-muridnya yang mengembangkan ilmunya.
1.    Faidh Al-Kasyani ( Muhammad bin Murtadda dikenal sebagai Mulla Muhsin)
2.    Abdurrazaq Lahiji
3.    Murid lain yang tidak terkenal seperti dua murid diatas adalah Mulla Husain tunkabuni.
4.    Muhammad bin Ali Ridha bin Aqa Jani.
5.    Mulla Alinnuri, Mulla Ismail Khawaju’I, Mulla Hadi Sabziwai dan Mulla Hadi Mudarits.

Referensi:
Dedi Supriadi. 2010. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.
loading...

Artikel Terkait

Previous
Next Post »