Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam: Penjelasan Tentang Orang-Orang yang Arif

Disember 02, 2017

"Tanda-tanda orang yang arif dalam amal, ia tidak membanggakan amal ibadahnya. Berkurangnya harapan kepada Allah ketika terjadi kekhilafannya kepada Allah"

Orang yang arif adalah orang yang tidak membanggakan amal ibadahnya. Orang seperti ini kurang pengharapannya kepada Allah ketika ia berhadapan dengan rintangan yang menimpa. Sedangkan sifat orang yang bijaksana dalam meneguhkan imannya kepada Allah selalu berpegang teguh (istiqamah) kepada kekuasaan yang ada pada Allah.

Para arifin dalam imannya kepada Allah selalu menyaksikan kebenaran-Nya dari atas permadani hidupnya. Ia tidak dapat memutuskan hubungannya dengan Allah karena telah menyaksikan kebesaran Allah dari hidupnya sendiri. Ia tidak menjadikan amal ibadahnya sebagai kebanggaan hidupnya, tetapi ia jadikan sebagai suatu kewajiban seorang hamba kepada Khaliq yang senantiasa ia kuatirkan kalau-kalau ibadahnya itu tidak diterima oleh Allah.

Orang arifin yang selalu memperhatikan dirinya dan menguatirkan amalnya dengan harapan rahmat dari Allah, menempatkan diri mereka dengan jiwa yang waspada dan tenang. Karena kewaspadaan jiwa dalam ibadah serta ketenangannya akan memberikan manusia sifat-sifat utama yang terdengar dari suara hati nuraninya sendiri yang suci bersih. 

Adapun orang yang berbuat dosa dan kesalahan, akan tetapi ia enggan mengharapkan rahmat dan ampunan Alah, maka ia telah menumbuhkan rasa angkuh akan kemampuan dirinya tanpa rahmat dan pertolongan Allah. Orang ini telah mengesampingkan Allah dalam tauhidnya. Orang seperti ini telah melibatkan dirinya dalam dosa dan kesalahan.

Pengharapan kepada Allah selalu menjadi hiasan hati orang-orang arif, selalu menjadi keinginan manusia yang beriman akan kebutuhannya kepada Allah, karena meyakini pemberian Allah itu sangat luas, dan rahmat Allah sangat banyak. Apabila suatu saat si hamba Allah ini tergelincir dalam perbuatan maksiat, ia akan menemukan jalan keluar, karena rahmat dan kecintaan Allah akan melepaskannya. Karena si hamba yakin kasih sayang Allah akan mendatanginya, melindungi dan memberikan pertolongan kepadanya.

Pemberian Allah berupa rahmat dan pertolongan akan diterima seorang hamba apabila si hamba yang berlumuran dosa sadar akan kelemahan dirinya, dan yakin kepada rahmat-Nya. Keyakinan seperti ini akan memberi peluang bagi manusia berdosa agar cepat-cepat bertobat dan memohon ampunan kepada Allah, seperti yang ia yakini sebagai satu-satunya tempat ia bersandar.

Tobat bagi seorang yang arif adalah pertanda nuraninya masih hidup dan jiwanya masih dibakar oleh iman, sehingga ia tidak berputus asa menghadapi segala sesuatu yang ada padanya, sebagai kenyataan yang tidak boleh dielakkan. Mereka yang berpribadi seperti ini adalah kelompok orang yang ditegaskan oleh Al-Qur'an sebagai golongan kanan (ashabul yamin).

Sesungguhnya Allah telah menciptakan agama untuk manusia bersamaan dengan memberikan kemampuan mereka untuk beramal. Karena dengan amal itu manusia akan berupaya melepaskan dirinya dari dosa dan kesalahan, serentak akan memberikan tempat kepadanya hiasan keutamaan diri.

Iman yang paling tinggi kualitasnya adalah iman yang mampu melepaskan dirinya dari belenggu yang membebaninya melalui ujian. Inilah watak yang paling berharga, ketika seorang mukmin sadar akan dirinya atas pemberian rahmat dan karunia Allah yang begitu banyak yang telah ia terima. Oleh karena belenggu dosa yang begitu banyak membebani dirinya dan terikat dalam hatinya, si hamba tidak merasakan rahmat dan nikmat Allah yang telah banyak diterimanya.

Berpikir dengan akal sehat itu lebih utama dan lebih agung pahalanya dari berpikir dengan akal yang sakit oleh karena dosa yang menjauhkannya dari rahmat Allah. Karena rahmat Allah itu dekat dengan orang beriman, sesuai dengan firman Allah, "Sesungguhnya Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik (orang beriman)." 

Demikian juga ketaatan kepada Allah bukanlah suatu amal yang harus dipamerkan atau semisalnya, karena ketaatan adalah hiasan jiwa yang bertahtakan ketulusan di dalamnya. Ketaatan itu sendiri belum menjadi jaminan seorang untuk masuk surga. Karena hal ini memerlukan ujian yang sangat istimewa. Sebab pada dasarnya ketaatan adalah karunia yang sangat mahal harganya bagi hamba Allah yang perlu mendapatkan penjagaan terus menerus sepanjang hayatnya. Setiap karunia yang menjadi anugerah Allah berupa apapun, terutama jiwa yang taat, adalah merupakan hidayah dari Allah.

Meyakini bahwa iman dan ketaatan seorang hamba kepada Khaliqnya adalah hidayah Allah, maka seorang hamba yang arif akan selalu memberi bobot jiwanya serta menghindarkan dari dirinya kedengkian, kesombongan, demikian juga kebanggaan. Sebab sifat yang disebut terakhir akan memberi kesempatan kepada iblis mendapat tempat dalam ruang jiwa kita. Hal ini sangat berbahaya.

Keimanan kepada Allah sebagai penangkal bagi orang mukmin yang arif adalah perisai yang paling ampuh, dan senjata yang paling tajam, berhadapan dengan musuh Allah dan musuh orang beriman, yakni iblis. Hanya dengan iman dan islam yang telah dipilih Allah yang akan mampu memberikan kekuatan dan senjata pamungkas. Hamba Allah yang mempergunakan Islam sebagai senjata melawan iblis itulah yang akan mendapatkan kemenangan dan kasih sayang-Nya. Karena Allah telah mengingatkan, "Barangsiapa yang mengikuti agama yang bukan agama Islam maka tidak diterima amal ibadahnya, sedangkan di alam akhirat ia termasuk orang yang rugi." (QS. Ali-Imran : 85).

Ketahuilah bahwasannya berpegang teguh pada keutamaan dan kemuliaan lebih diperlukan daripada berpegang kepada perbuatan yang bertentangan dengan peraturan Islam, satu amal yang tercela. Adapun perbuatan yang tercela itu datang mengunjungi kita disebabkan jiwa kita tentang kebenaran dan kemuliaan sangat minim. Sedangkan memenuhi jiwa kita dengan ajaran-ajaran islam adalah wajib, agar kita terhindar dari pengaruh ajaran dan pemikiran yang bukan Islam. Agama Islam itu wajib dijadikan hujjah dalam perjalanan hidup kita, agar terhindar dari perbuatan yang bebal dan bodoh.

Orang yang membanggakan amal ibadahnya berarti ia menyandarkan dirinya hanya kepada amal ibadahnya, dan hal ini tidak diperkenankan dalam syariat Islam. Semua amal ibadah hanyalah disandarkan kepada Allah. Disebutkan dalam Al-Qur'an: "Dengan karunia dan rahmat Allah jualah hendaklah kamu bergembira karenanya. Sebab karunia dan rahmat Allah itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus : 58).

Berbangga kepada amal ibadah yang telah dilaksanakan sama dengna syirik. Karena perbuatan seperti itu selain membanggakan diri di hadapan Allah bahwa ia telah bisa beramal dan beribadah, ia pun telah mendahului Allah. Seakan-akan amal ibadahnya telah diterima Allah. Orang seperti ini seakan-akan amal itu datang dari kemempuannya sendiri, lalu mengandalkan amal untuk mencapai tujuan.

Orang-orang arif dan bermakrifat kepada Allah lebih banyak bersyukur kepada-Nya karena banyak kesempatan baginya untuk beramal. Dengan rahmat dan kasih sayang itulah ia mampu melaksanakan semua amal ibadahnya dalam kehidupan dunia ini.

Wallahu a’lam bish-shawabi...
loading...

Artikel Terkait

Previous
Next Post »