Pemikiran Filsafat Mulla Shadra

Disember 17, 2017

Terlalu banyak pemikiran Mulla Shadra untuk dikemukakan, paling tidak dalam tulisan Abdul Hadi ada 4 pokok masalah kefilsafatan yang dibahas Mulla Shadra dalam karyanya.

1. Gerak Subtansial (al-harakah al-jauhariyah)
Teori Gerak Subtansial (al-harakah al-jauhariyah), adalah sumbangan orsinil Mulla Shadra terhadap filsafat Islam. Ajaran ini merupakan uraian lebih lanjut dari pandangan Shadra bahwa gradasi wujud tidak bersifat statis tetapi dinamis, bergerak dari eksistensi tingkat rendah menuju eksistensi tingkat tinggi. Mulla Shadra memperlihatkan bahwa berdasarkan prinsip-prinsip Aristotelian tentang materi dan bentuk, harus diterima bahwa substansi alam semesta senantiasa bergerak, tidak pernah terdapat kekonstanan sesaat dan keseragaman bentuk dalam substansi alam. Aksiden-aksiden (yaitu sembilan kategori yang lain), sebagai fungsi dan substansi, juga berada dalam gerak. Menurut Mulla Shadra, alam sama dengan gerak, dan gerak sama dengan penciptaan dan pemusnahan yang tidak henti-henti dan berjalan terus menerus.

Kontribusi Mulla Shadra dalam gerakan substansial (al-Harakah al-Jawhariyah) melengkapi para filosof sebelumnya, dimana mereka berepndapat bahwa gerakan hanya terjadi pada empat kategori aksiden; kuantitas (kammiyat), kualitas (kaifiyyat), posisis (wadh’) dan tempat (‘ayn). Dengan kata lain, substansi tidak berubah tetapi hanya empat kategori akseden yang berubah. Karena kalau substansi berubah kita tidak dapat menetapkan judgment tentangnya. Begitu kita mengeluarkan judgment, ia sudah berubah menjadi yang lain.

Mulla Shadra berpendapat bahwa disamping perubahan pada empat kategori aksiden, gerak juga terjadi pada substansi. Kita melihat bahwa dalam dunia eksternal perubahan benda material dan keadaan yang satu kepada keadaan yang lain. Buah apel kembali dari hijau tua ke hijau muda, kemudian kuning, lalu merah. Ukuran rasa, berat juga selalu mengalami perubahan. Karena eksistensi aksiden bergantung pada eksistensi substansi, maka perubahan aksiden akan menyebabkan perubahan pada substansi juga. Semua benda material bergerak. Gerakan ini berasal dari penggerak pertama yang immaterial, menuju penyempurnaan yang non-material dan berkembang menjadi sesuatu non-material. Dalam hubungna inilah Mulla Shadra mempertahankan sifat hudus dari dunia fisik, sifat tidak permanen dari esensi materi, dan waktu sebagai dimensi materi keempat; sebagai suautu ukuran kuantitas gerak. Sebab mendasar yang menjadikan akseden dalam bergerak adalah nilai  hudusnya wujud dan waktu yang menjadikannya sebagai tempat kebaruannya.

2. Filsafat Jiwa
Mulla shadra sebagaimana Aristoteles mendefinisikan jiwa sebagai Entelenchy badan. Oleh sebab itu tidak bersifat abadi dalam arti bermula, jiwa itu tidak dapat dipisahkan dan bebas dari materi. untuk menyatakan bahwa itu terpisah dan bebas dari materi hanyalah dengan menyakini adanya praeksistensi jiwa. Pada saat yang bersamaan Mulla shadra menolak pandangan ibn Sina yang menyatakan bahwa jiwa adalah sebuah konsep Realisional dan bukan merupakan sesuatu yang bersifat substantif. Bila jiwa sejak lahir berada dalam satu materi, kejiwaannya tidak dapat diartikan sebagai suatu relasi dimana seolah-olah jiwa memiliki eksistensi bebas, maka tidak mungkin untuk meyatukan jiwa dengan badan.

Sedangkan menurut  Shadra, jiwa itu bersandar pada prinsip dasar yang disebut perubahan subtantif (istihala jauhariyyah). Pada umumnya, jiwa itu bersifat jasmaniah tetapi akhirnya bersifat spiritual selamanya (jismaniyat Al- hudus ruhaniyat al-baqa’) artinya manakala jiwa muncul atas landasan materi, bukanlah berarti jiwa itu bersifat materi secara absolut. Dengan prinsip perubahan subtansif ini, dituntut adanya tingkatan yang lebih tinggi dari landasan dimana jiwa berada. Oleh sebab itu dalam bentuk kehidupan yang paling rendah sekalipun, seperti tumbuh-tumbuhan yang bergantung pada materi. Materi atau tubuh itu hanyalah instrumen dan merupakan langkah pertama untuk perpindahan dari alam materi menuju alam spiritual. Sadra menegaskan bahwa badan sebagaimana ia akan "dibangkitkan" secara identik adalah sama dengan badan, pada titik ini sadra menduduki posisi yang sama dengan Al-Ghazali dan mencela pandangannya tentang kebangkitan badan sebagai varian dari perpindahan jiwa.

3. Filsafat pengetahuan atau Epistimologi
Mulla Sadra menetapkan tiga jalan utama untuk mencapai kebenaran atau pengetahuan: jalan wahyu, jalan inteleksi (ta’aaqul), dan jalan musyahdah dan mukasyafah (jalan penyucian kalbu dan penyingkaban mata hati) dengan menggunakan istilah lain. Mulla sadra menyebut jalan tersebut sebagai jalan al-Quran, jalan Al-Burhan, dan jalan Al-irfan. Istilah husuli (konseptual) tersebut merupakan kunci penting memahami teori pengetahuan Mulla Shadra. Dalam teori pengetahuannya, Mulla Shadra membagi pengetahuan menjadi dua jenis: pengetahuan husuli atau konseptual dan pengetahuan atau ilmu huduri. Bentuk pengetahuan ini menyatu dalam diri seseorang yang telah mencapai pengetahuan berperingkat tinggi. Bangunan epistimologi Mulla Shadra berkaitan erat dengan idenya tentang wahdah (unity), asalah (principality), tasykik (gradation) dan ide perubahan substantif. Menurut Sadra wujud atau realitas itu hanyalah satu yang membentuk hierarki dari debu hingga singgasana illahi. Tuhan sendiri adalah wujud mutlak yang menjadi titik wujud permulaan itu, dengan demikian Tuhan adalah transenden rantai wujud.

Bagi Shadra filsafat dapat dibedakan menjadi dua bagian utama: (1) bersifat teoritis, yang mengacu pada pengetahuan tentang segala sesuatu sebagaimana adanya. (2) bersifat praktis, yang mengacu pada pencapaian kesempurnaan yang cocok bagi jiwa. Mulla shadra memandang adanya titik temu antara filsafat dan agama sebagai satu bangunan kebenaran ia membuktikannya melalui pelacakan atas jejak-jejak kesejarahan manusia dan membentangkan seluruh faktanya. Menurut shadra ditiap tempat dalam kurun waktu tertentu selalu ada sosok yang bertanggung jawab dalam menyebarkan kebijakan (hikmah). Jika dikaitkan dengan teori pengetahuannya tampak bahwa titik pusat flsafat Mulla Shadra ialah pengalaman makrifat (al-irfan) tentang wujud sebagai hakikat atau kenyataan tertinggi. Bagi Mulla Shadra bukan keberadaan benda itu yang penting, melainkan penglihatan batin subjek yang mengamati alam keberadaan atau kewujudan.

4. Filsafat ketuhanan (metafisika)
Gagasan Mulla Shadra tentang Tuhan berbeda dengan gagasan ketuhanan yang dimiliki oleh Al-Farabi dan Ibnu Sina. Mulla Shadra berpendapat bahwa ketidakbutuhan dan kesempurnaan esensi Tuhan tak cukup dengan menegaskan kekadiman dan kemanunggalan esensi Tuhan dan wujud. Dalam pandangannya teori bahwa Tuhan yang merupakan wujud murni dan basit, bukan dalil atas keniscayaan dan ketidakbutuhan mutlak Tuhan. Teori ini tak lain menegaskan bahwa maujud yang terasumsi merupakan maujud hakiki, bukan maujud majasi.

Dalam sistem metafisika hikmah Muta’aliyyah dengan berpijak pada teori kehakikian wujud, wujud Tuhan ditegaskan sebagai wujud berintensitas tinggi yang tak terbatas, sedangkan makhluk merupakan suatu wujud yang berintensitas rendah, membutuhkan dan mustahil menjadi sebab kehadiran bagi dirinya sendiri, karena itu dia harus bergantung pada wujud mutlak. Mulla Shadra beranggapan bahwa Tuhan secara mutlak memiliki kesempurnaan dan zat-Nya menyatu secara hakiki dengan sifat-Nya.

Perbedaan tuhan dengan makhluk tak dipahami sebagai dua realitas yang memiliki batasan dan garis pemisah. Tapi perbedaan keduanya terletak pada kesempurnaan Tuhan dan kekurangan makhluk, kekuatan-Nya dan kelemahannya. Oleh sebab itu perbedaan antara keduanya bukan perbedaan yang saling berhadapan, tapi perbedaan yang bersifat “mencakupi” dan “meliputi”. Dengan ungkapan lain segala wujud selain-Nya merupakan suatu rangkaian gradasi dan manifestasi cahaya Zat dan Sifat-Nya bukan sebagai realitas-realitas yang mandiri dan berpisah secara hakiki dari wujud-Nya. Kesatuan wujud dan maujud secara menyeluruh dan hakiki dalam realitas kemajemukan keduanya. Menurut Mulla Shadra, pemahaman tauhid seperti itu merupakan tingkatan tertinggi dari tauhid yang dimliki oleh para monoteis sejati.

Karakteristik al-hikmah al-muta’aliyah yang bersifat sintesis merupakan hasil kombinasi dan harmonisasi dari ajaran-ajaran wahyu, ucapan-ucapan para Imam, kebenaran-kebenaran yang diperoleh melalui penghayatan spiritual dan iluminasi intelektual, serta tuntutan-tuntutan logika dan pembuktian rasional. Sintesis dan harmonisasi ini bertujuan untuk memadukan pengetahuan yang diperoleh melalui sarana Sufisme atau ’irfan, Iluminasionisme atau isyraqiyyah, filsafat rasional atau yang identik dengan Peripatetik atau masysya’iyyah, dan ilmu-ilmu keagamaan dalam arti sempit, termasuk kalam. Dengan demikian, kemunculannya tidak dapat dipisahkan dari, dan harus dilihat dalam konteks aliran-aliran pemikiran Islam yang mendahuluinya.

Secara epistemologis, hikmah muta’aliyah didasarkan pada tiga prinsip, yaitu: iluminasi intelektual (dzawq atau isyraq), pembuktian rasional (‘aql atau istidlal), dan agama (syari’ atau wahyu). Hikmah Muta’aliyah dalam meraih makrifat menggunakan tiga sumber yaitu: argumen rasional (akal), penyingkapan (mukasyafah), al-Quran dan hadis Ahlulbait As, karenanya dikatakan paling tingginya hikmah.

Kunci filsafat Mulla Shadra untuk mencapai derajat hikmah muta’aliyah sebagai ajaran pokoknya, Shadra menawarkan empat tingkatan kesempurnaan akal yang juga menggambarkan gerakan konstan-vertikal dan skala wujud menuju kesempurnaan pengetahuan, juga sebagai dasar pemikiran filosofisnya. Pertama, perjalanan yang dimulai dari makhluk menuju hakikat kebenaran pencipta dengan melepas tabir kegelapan dan cahaya yang menghalangi seorang salik dan hakikat rohaninya. Kedua, perjalanan yang dimulai dari hakikat menuju hakikat dengan hakikat. Ketiga, dari hakikat kepada makhluk dengan hakikat. Keempat, perjalanan ini dari makhluk meuju makhluk dengan hakikat.
loading...

Artikel Terkait

Previous
Next Post »