A. Teks dan Terjemah Hadis
(عَنْ اَنَس رضِيَ اللَّه عنْهُ قَال : قَال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حُفَّتِ اْلجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ ( رواه مسلم
Artinya: Dari Anas r.a. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda “Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan.” (HR. Muslim).
B. Biografi Perawi
Anas bin Malik, nama lengkapnya adalah Anas ibn Malik ibn Nazhar Al Anshary Al Khazary. Dia menerima 2.286 hadits. Ia menerima hadits dari Nabi SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdullah Ibn Ruwahah, Fatimah Az Zahra, Tsabit Ibn Qais Ibn Syams, Abd Ar Rahman Ibn ‘Awf, Ibn Mas’ud, Malik Ibn Sha’sha, Abu Dzar, Ubai Ibn Ka’ab, Abi Thalhah, Abu Bakar, Ibn Abdullah Al Mazani, Qatadah, Muhammad Ibn Sirin, Az Zuhri, Ruba’ah Ibn Abd Ar-Rahman, dll. Ia adalah pelayan Rasulullah dan telah mengabdi kepadanya selama 10 tahun. Ia meninggal dunia pada tahun 92/ 93/100H.[1]
C. Penjelasan Hadis
Hadis diatas mengatakan bahwa surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan, maksudnya hal-hal yang tidak menyenangkan (Al-Makarih) dalam hadits di atas, adalah segala sesuatu yang memberatkan dan sulit dilakukan. Contohnya bersuci dipagi hari yang dingin dan amal-amal ketaatan lainnya, seperti sabar atas musibah, dan semua hal lainnya yang tidak menyenangkan.
Bermacam-macam kesenangan (Asy-Syahawat), maksudnya segala sesuatu yang disukai, di setujui, dan cocok dengan ajakan nafsu. Adapun huffat berasal dari kata hafaf, yang artinya dikelilingi dan diliputi, sehingga tidak bisa dicapai kecuali dengan dilompati.
Dalam hadits diatas, Nabi saw. membuat perumpamaan sedemikian rupa untuk surga dan neraka, yakni bahwa surga dikelilingi hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi berbagai macam kesenangan. Maksudnya, bahwa surga itu tidak diperoleh kecuali dengan melintas berbagai macam perjuangan yang tidak menyenangkan, serta tabah dan sabar menghadapinya. Sedang neraka, siapapun tak akan bisa selamat darinya, kecuali dengan meninggalkan dan menyapih nafsu dari segala macam kesenangan.[2]
Adapun menurut Ibnu Mas’ud r.a. mengenai hal ini dia mengatakan, “Surga dikelilingi hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi kesenangan-kesenangan, memang. Maka, barang siapa melihat hijab, dia kehilangan kenyataan yang ada di belakang. Dan siapapun yang membayangkan hal-hal tersebut dari luar, dia tersesat dari makna hadis dan dari keadaan yang sebenarnya.”
Jika ada yang menanyakan bukankah artinya bahwa neraka itu terhalang dengan kesenangan-kesenangan? Artinya sama saja, karena orang yang buta dari ketakwaan, yang pendengaran dan penglihatannya dikuasai kesenangan-kesenangan itu, dia dapat melihat kesenangan-kesenangan itu, tetapi tidak melihat neraka yang berisi kesenangan-kesenangan tersebut. dan kalau kesenangan-kesenangan yang dia nikmati itu dikarenakan hatinya dikuasai kebodohan dan diliputi kelalaian, maka ibaratnya seperti halnya burung yang melihat biji dalam perangkap. Dia terhalang dari perangkap, dan tidak melihatnya, karena keinginannya kepada biji telah menguasai hatinya, sehingga pikirannya lekat pada biji itu. Dia tidak tahu lagi kenapa biji itu ditaruh disana dan dihalangi dari dia.
Wallahu a’lam bish-shawabi...
[1] Rachmat Syafe’I, 2000, Al-Hadis, Bandung: Pustaka Setia, hlm 36
[2] Syamsuddin Al-Qurthubi, 2001, At-tadzkirah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, hlm 744
Anas bin Malik, nama lengkapnya adalah Anas ibn Malik ibn Nazhar Al Anshary Al Khazary. Dia menerima 2.286 hadits. Ia menerima hadits dari Nabi SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdullah Ibn Ruwahah, Fatimah Az Zahra, Tsabit Ibn Qais Ibn Syams, Abd Ar Rahman Ibn ‘Awf, Ibn Mas’ud, Malik Ibn Sha’sha, Abu Dzar, Ubai Ibn Ka’ab, Abi Thalhah, Abu Bakar, Ibn Abdullah Al Mazani, Qatadah, Muhammad Ibn Sirin, Az Zuhri, Ruba’ah Ibn Abd Ar-Rahman, dll. Ia adalah pelayan Rasulullah dan telah mengabdi kepadanya selama 10 tahun. Ia meninggal dunia pada tahun 92/ 93/100H.[1]
C. Penjelasan Hadis
Hadis diatas mengatakan bahwa surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan, maksudnya hal-hal yang tidak menyenangkan (Al-Makarih) dalam hadits di atas, adalah segala sesuatu yang memberatkan dan sulit dilakukan. Contohnya bersuci dipagi hari yang dingin dan amal-amal ketaatan lainnya, seperti sabar atas musibah, dan semua hal lainnya yang tidak menyenangkan.
Bermacam-macam kesenangan (Asy-Syahawat), maksudnya segala sesuatu yang disukai, di setujui, dan cocok dengan ajakan nafsu. Adapun huffat berasal dari kata hafaf, yang artinya dikelilingi dan diliputi, sehingga tidak bisa dicapai kecuali dengan dilompati.
Dalam hadits diatas, Nabi saw. membuat perumpamaan sedemikian rupa untuk surga dan neraka, yakni bahwa surga dikelilingi hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi berbagai macam kesenangan. Maksudnya, bahwa surga itu tidak diperoleh kecuali dengan melintas berbagai macam perjuangan yang tidak menyenangkan, serta tabah dan sabar menghadapinya. Sedang neraka, siapapun tak akan bisa selamat darinya, kecuali dengan meninggalkan dan menyapih nafsu dari segala macam kesenangan.[2]
Adapun menurut Ibnu Mas’ud r.a. mengenai hal ini dia mengatakan, “Surga dikelilingi hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi kesenangan-kesenangan, memang. Maka, barang siapa melihat hijab, dia kehilangan kenyataan yang ada di belakang. Dan siapapun yang membayangkan hal-hal tersebut dari luar, dia tersesat dari makna hadis dan dari keadaan yang sebenarnya.”
Jika ada yang menanyakan bukankah artinya bahwa neraka itu terhalang dengan kesenangan-kesenangan? Artinya sama saja, karena orang yang buta dari ketakwaan, yang pendengaran dan penglihatannya dikuasai kesenangan-kesenangan itu, dia dapat melihat kesenangan-kesenangan itu, tetapi tidak melihat neraka yang berisi kesenangan-kesenangan tersebut. dan kalau kesenangan-kesenangan yang dia nikmati itu dikarenakan hatinya dikuasai kebodohan dan diliputi kelalaian, maka ibaratnya seperti halnya burung yang melihat biji dalam perangkap. Dia terhalang dari perangkap, dan tidak melihatnya, karena keinginannya kepada biji telah menguasai hatinya, sehingga pikirannya lekat pada biji itu. Dia tidak tahu lagi kenapa biji itu ditaruh disana dan dihalangi dari dia.
Wallahu a’lam bish-shawabi...
[2] Syamsuddin Al-Qurthubi, 2001, At-tadzkirah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, hlm 744
loading...

EmoticonEmoticon