Definisi Mengajar Menurut Para Ahli

Ogos 04, 2017

Dalam dunia pendidikan tentunya tidak akan terlepas dengan suatu proses pembelajaran. Setidaknya ada tiga komponen penting dalam pembelajaran yakni seorang pengajar atau guru yang bertugas untuk mengajar, siswa atau murid sebagai orang yang belajar dan bahan pelajaran yang akan disampaikan. Sebelum kita lebih jauh membahas tentang mengajar baik dari segi model dan metodenya, disini akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai definisi mengajar.

Arifin (1978) mendefinisikan mengajar adalah sebagai “suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu”.

Tardif (1989) mendefinisikan mengajar secara lebih sederhana tetapi cukup komprehensif dengan menyatakan bahwa mengajar itu pada prinsipnya adalah “perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini guru) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini siswa) melakukan kegiatan belajar”.

Biggs (1991) seorang pakar psikologi kognitif masa kini, membagi konsep mengajar dalam tiga macam pengertian.
a. Pengertian kuantitatif (yang menyangkut jumlah pengetahuan yang diajarkan)
b. Pengertian institusional (yang menyangkut kelembagaan atau sekolah)
c. Pengertian kualitatif (yang menyangkut mutu hasil yang ideal)

Dalam pengertian kuantitatif, mengajar berarti “the transmission of knowledge”, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini, guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa dengan sebaik-baiknya.

Dalam pengertian institusional, mengajar berarti “the efficient orchestration of teaching skills”, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam pengertian ini, guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar untk bemacam-macam siswa yang berbeda bakat, kemampan, dan kebutuhannya.

Dalam pengertian kualitatif, mengajar berarti “the facilitation of learning”, yakni upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa. Dalam pengertian ini, guru berinteraksi sedemikian rupa dengan siswa sesuai dengan konsep kualitatif, yakni agar siswa belajar dalam arti membentuk makna dan pemahamannya sendiri.

Adapun istilah mengajar/pengajaran dalam bahasa Arab disebut dengan taklim (baca: ta’lim). Menurut Rasyid Ridha, arti ta’lim adalah “proses transmisi berbagai ilmu kepada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu”.[1]

Dalam pandangan Al-Maraghi, kata ta’lim bermakna pengajaran yang dilaksanakan secara bertahap, sebagaimana tahapan Nabi Adam as dalam mempelajari, menyaksikan, dan menganalisa asma-asma yang diajarkan Allah kepadanya.[2]

Secara umum, makna at-ta’lim berkenaan dengan informasi, yakni aspek intelektual, dan kadang juga berkenaan dengan penguasaan suatu keterampilan. Jadi, dapat dikatakan bahwa at-ta’lim merupakan bagian dari pendidikan intelektual, yang tujuannya memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman akan suatu ilmu, seni atau bahkan pekerjaan. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa at-ta’lim adalah pemberitahuan dan penjelasan tentang sesuatu yang meliputi isi dan maksudnya secara berulang-ulang, kontinu, bertahap, menggunakan cara yang mudah diterima, menuntut adab-adab tertentu, bersahabat, berkasih sayang, sehingga muta’alimin mengetahui, memahami dan dimilikinya, yang dapat melahirkan amal shaleh yang bermanfaat di dunia dan akhirat untuk mencapai ridha Allah.[3]

Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli diatas, dapat kita simpulkan bahwa mengajar adalah suatu proses transmisi berbagai ilmu melalui interaksi seorang guru dengan siswanya dalam upaya guru membantu siswa tersebut untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman akan suatu ilmu.

Referensi:
[1] Lihat Tafsir Al-Manar (dalam Ramayulis, 2008)
[2] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), h. 16
[3] Dedeng Rasidin, Akar-Akar Pendidikan dalam Al-Quran dan Al-Hadits, (Bandung, Pustaka Umat, 2003), h. 192-193
loading...

Artikel Terkait

Previous
Next Post »