A. Pengertian Bimbingan
Bimbingan dan konseling merupakan terjemahan arti dari
“guidance” dalam bahasa inggris. Secara harfiah istilah “guidance” dari akar kata “guide” berarti: mengarahkan (to direct), memandu (to
pilot), mengelola (to manage), dan menyetir (to steer).[1]
Bimbingan merupakan suatu proses berkesinambungan melalui
serangkaian tahap kegiatan yang sistematis dan berancana terarah pada
pencapaian tujuan. Tujuan bimbingan adalah perkembangan optimal
yang berarti perkembangan tentang kehidupan yang baik dan benar
melalui potensi dan sistem nilai. Pola pencapaian tingkat kemampuan
intelektual tinggi bukan semata-mata dari perkembangan optimal, akan
tetapi suatu kondisi dinamik individu. Kondisi tersebut memungkinkan
individu mampu mengenal dan memahami diri, menerima kenyataan
diri secara objektif, mengarahkan diri sesuai kemampuan, serta
melakukan pilihan dan mengambil keputusan atas tanggung jawab
sendiri. Kondisi dinamik akan berkembang terus karena individu
berada dalam lingkungan yang terus berubah dan berkembang.[2]
Bimbingan juga merupakan proses menerima bantuan atau
pertolongan yang disebut “helping”. Makna bantuan di sini
menunjukkan bahwa yang aktif dalam mengembangkan diri, mengatasi
masalah, dan mengambil keputusan adalah individu itu sendiri.
Individu tersebut merupakan individu yang sedang berkembang.
Bimbingan diberikan dengan berdasar aspek keragaman dan keunikan
individu. Jadi tidak ada teknik umum yang berlaku untuk setiap
individu. Teknik bantuan disesuaikan dengan pengalaman, kebutuhan, dan masalah individu. Untuk itu maka diperlukan pemahaman dan
komprehensif tentang karakteristik, kebutuhan, atau masalah
individu.[3]
B. Pengertian Konseling
Konseling secara etimologis berasal dari bahasa latin yaitu
“ongilium” yang mempunyai arti “dengan atau bersama” yang
dirangkai dengan “menerima atau memahami”. Sedangkan dalam
bahasa Anglo-saxon, istilah konseling berasal dari “sellon” yang
berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”.[4]
Konseling dapat dipahami dalam konteks sosial dan budaya.
Konseling adalah bentuk pertolongan yang fokus pada kebutuhan dan
tujuan seseorang. Baik konselor maupun klien merupakan peran sosial
dan metode yang digunakan dalam konseling adalah melogiskan tujuan
dan kerja konseling dibentuk sesuai dengan kultur setempat. Konseling
juga merupakan aktifitas yang muncul ketika seseorang yang
bermasalah mengundang dan mengizinkan orang lain untuk memasuki
hubungan tertentu diantara mereka.[5]
Hubungan antara klien dan konselor tergantung pada
kepribadian, keyakinan, sikap, dan perilaku konselor. Hubungan yang
terjadi antara konselor dan klien dipengaruhi oleh karakteristik pribadi
seorang konselor. Agar sebuah hubungan konseling dapat efektif, seorang konselor menggunakan pendekatan terpadu yang berusaha
untuk:[6]
1) Bersikap tulus;
2) Berempati, bersikap hangat dan menunjukkan kepekaan dalam
hubungan harmonis yang dilandasi saling pengertian;
3) Tidak menghakimi dengan penerimaan positif tanpa syarat;
4) Menunjukkan perhatian, pengertian, dan dukungan;
5) Bersikap kolaboratif di samping juga menunjukkan
penghargaan terhadap kompetensi klien; dan
6) Menunjukkan kemampuan dalam menggunkakn keterampilan-keterampilan
konseling.
Referensi:
[1] Yusuf, Syamsul dan A..Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling, (Bandung: Rosda Karya, 2005), hal.5.
[2] Ibid. hal. 6.
[3] Ibid. hal.7.
[4] Prayitno dan Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan konseling, (Jakarta: Asdi mahasatya, 2004), hal. 99.
[5] McLeod, john, Pengantar Konseling. teori dan kasus, (Jakarta: kencana, 2010), hal.16.
[5] McLeod, john, Pengantar Konseling. teori dan kasus, (Jakarta: kencana, 2010), hal.16.
[6] Ibid. hal. 34
loading...

EmoticonEmoticon